Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Test link

Table of Content

Cerita Sebelum Handphone



- ONald -


SEBELUM HANDPHON


Penerbit
ponakangoogle.blogspot.com



SEBELUM HANDPHONE

Oleh: ONald
Copyright © Januari 2016 By ONald

Penerbit
Desain Sampul: ONald


Diterbitkan Melaluli Blog




UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Tuhan, dan kepada ONald, saya sendiri selaku penulis (karena udah ahirnya selesai juga buku ini :-D), Terima kasih juga buat keluarga terdekat ku Orang Tua ku, abangku Promis, Novia adik ku paling bontot, ka Rose Zee dan Devi Cristine  dan juga keluarga ku yang lainya, termasuk Galuh, Ani dan masih banyak yang tak dapat ku sebutkan satu persatu kali ini, dan juga semua sahabat – sahabat yang membuatku mampu untuk melewati masa-masa jenuh yang membuat tulisan ini telat untuk di publiskan, dimana teman – teman ku sudah membuat ku mampu melalui masa – masa malasku. :-D
Ahir kata, terima kasih juga buat penerbit dan semua pembaca.
Semoga tulisan ini dapat menghibur, dan mengisi waktu senggang para manusia – manusia yang haus akan buku.
Selamat Menikmatinya,

Salam hangat,
ONald





BAB 1

1961,
Desember 1961 adalah awal dari semua kejadian ini,
Aku belum mengerti dengan Istilah “ Family “, bahkan orang yang seharusnya aku kenal malah tidak aku kenal.

Hendri J. Trisno,
Jl. Muara baru No. 17 Simpang perepatan
Jakarta,

Begitulah isi alamat yang aku terima, terlulis di selembar kertas lusuh.
Aku masih ingat persis saat kemarin sore Ibu yang “katanya” melahirkanku itu memberikannya dengan isak tangis,

“ kamu tidak seharusnya pergi, tapi biarlah, Mungkin itu sudah jalan hidup yang di tentukan Tuhan buat mu,
baik – baiklah Nakku, Temuilah Abangmu “

Aku masih termenung dengan kertas di tangan kiriku,
Aku bahkan tidak tau harus sampai dimana nanti aku berherti saat aku sudah mulai melangkahkan kaki ku.
Usiaku genap 12 Tahun saat itu, dan dalam minggu ini, aku akan meninggalkan kampung halamku ini,
Seingat semampuku aku menutup mata lalu mengusapnya berulangkali berusaha mengingat wajah orang yang bernama Hendri itu, kami bertemu saat aku masih duduk di SR ( Sekolah Rakyat ) kelas 2, usiaku sekitar 8 tahun saat kami terahir betemu
Dia berperawakan tinggi jangkung dengan alis tebal dan rambut rada keriting. Itu adalah hari terakhir aku melihatnya, dan sebelum kepergiannya dari gubuk kecil kami ini, dia sempat berkata,

Jaga Ibu bapak baik – baik, lihat dan jangan sampai mereka sakit “.

Aku tau, saat itu dia ingin menangis, aku tau dia sedang bersedih, matanya berkaca-kaca saat memelukku, di lalu mencium keningku lalu memeluk Ibu ku dan mengusap – usah pipinya beberapa kali. Lalu aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan, sesaat setelah itu, aku tak pernah dengar sesuatu apa pun lagi tentang lelaki jangkung itu,
Dulu, aku pernah di beritahu ibuku bahwa dia kangen kepadaku,
Ibuku memberitahukannya saat tetangga yang anaknya tinggal di di daerah perkampungan yang lebih dekat ke kota membacakan sebuah surat yang di terimanya dari POS, Ibu bahkan tidak mengerti apa yang di maksud dengan huruf, aku bisa maklum itu, bahkan dari semua ibu teman - teman ku, tak satu pun dari mereka yang mengerti huruf, tapi mengerti Uang.
Sejak surat yang terakhir yang di bacakan itu, aku tidak pernah tau dimana dia, dan bagaimana wajahnya, yang aku tau, dia kakak ku, begitulah kata ibu ku.

Dua hari sebelum Ibu ku memberikan kertas itu,  aku berkeinginan untuk memiliki sepatu, 130 rupiah, itu adalah harga yang sangat tinggi pada saat itu aku memintakan untuk di belikan sepatu. Sepatu “ Brusli “, Begitulah kami menyebutnya. Sampai saat aku akan berangkat, aku tak pernah mendapatkan Sepatu “ Brusli “ yang aku inginkan, aku mangklum dengan hal itu, aku tau ibu ingin sekali membelikannya untuk ku, tapi dengan usia ku saat itu, aku dapat mengerti, walau sebenarnya aku terlalu dini untuk mengerti, namun kedaan hidup dan didikan yang aku dapatkan membuatku mengerti akan keadaan. Dari semua anak seusiaku, di daerah kami bertempat tinggal hanya 3 orang yang sekolah, dan selebihnya aku tidak tau, aku sering melihat mereka bepergian untuk melakukan pekerjaan bersama dengan orang tua mereka.
Eldon, Mery dan aku,
Kami selalu pulang dan pergi bersamaan ke Sekolah aku masih ingat persis, Mery dan aku selalu bergantian terima sepatu bekas dari Eldon seingat ku mungkin setelah 10 Bulan Mery Menerimanya, baru giliranku,  Itu adalah sepatu terbaik yang pernah aku gunakan, dengan sebuah kantong kecil di setiap sisinya, dengan lobang kecil di bawah tumit kaki ku, kiri dan kanan.
Sejak 1961 aku tidak pernah tau Eldon dimana, dan saat aku berangkat seingat ku Mery masih aku tinggalkan di Perkampungan tempat ibuku tinggal. Aku Masih ingat saat dia berkata dengan wajah sedih
Kamu pasti pulangkan lagikan?
Aku hanya mengangguk dengan senyum berat di bibirku,
Ahh, Sedih rasanya saat aku meninggalkan Mery dan kampung halaman ku, Merylah yang paling aku khawatirkan, nantinya saat ketiadaanku aku masih ragu dia akan bisa bergabung dengan orang – orang yang bukan biasanya.
Tapi Niatku sudah membuat langkah kaki ku semakin ringan.

Kami Sudah memberikan kabar ke Kakak mu, barang – barang mu sudah kami kemas dalam satu kardus, baik – baiklah disana. Ingatlah, Kami menunggu mu kembali lagi dan berkumpul di rumah ini

Kakak memberi nasehat disela isak tangisnya, aku hanya memandangi lampu penerang rumah yang terbuat dari batang bambu. Aku hanya diam, aku merenung menerawang jauh seolah-olah tak ada lampu penerang itu di depan mata ku.
Kosong ....
Itulah yang aku rasakan saat itu, tak ada perasaan apa-apa saat itu, mungkin bukan tak ada, hanya saja, aku tak tau apa yang aku rasakan. Aku hanya diam sembari ku lihat ibu ku yang duduk diseberang ku tepat di depanku, kami dipisah lampu penerang rumah kecil itu, samar ku lihat ada air bening di kelopak matanya.
Ada banyak dan begitu banyak lagi nasehat dan harapan yang aku terima dari keluargaku, Kakak ku, Ibu ku, Ayahku, bahkan adek ku si bungsu yang berkata,

Nanti aku ingin bersama mu disana, aku ingin ikut dan tinggal bersama mu, aku ingin tau bagaimana rasanya tinggal di Jakarta

Aku tak sanggup berkata – kata, aku hanya tersenyum, ku usap kening adik ku, aku lalu memalingkan wajahku, mencoba menutupi air mata ku agar dia tak tau kalau aku menangis.
Sesaat sebelum aku benar-benar terlelap, saat lampu penerang rumah kami dipadamkan aku sudah tidak tau apakah masih ada diantara kami yang masih terjaga, tapi mataku tak sedikit pun bisa terpejam. Lalu sayup – sayup ku dengar ada suara yang seperti sedang berbicara, awalnya akau tak menangkap jelas apa yang sedang di bicarakan, namun keheningan malam diperkampung saat itu membuat lama kelamaan suara itu makin jelas kedengarang, ditengah heling malam dengan suara jangkrik dan katak yang silih berganti yang setia mengisi heling tiap malam kampungku, dengan jelas dapat ku dengar,

Semua aku serahkan kehadapan Mu- Nya Tuhan, Semua aku percayakan hanya pada Mu, Dan hamba Mu ini tau dan yakin benar, bahwa yang terjadi adalah yang terbaik, Amin

Aku tau persis suara itu, tak lain itu adalah suara Ibu ku, ingin rasanya aku panggil ibuku saat itu. Aku ingin memeluknya dan menangis dipundaknya untuk meringakan beban pikiran yang tak aku tau pasti penyebapnya yang membuatku ingin menangis, awalnya aku sempat berpikir ada orang yang sedang bercerita, tapi memang benar, yaah, ibu sedang bercerita dengan Tuhan, yang tak pernah kulihat, tapi dapat ku rasakan.
Lalu ku coba menutup mataku untuk istirahat sejenak malam itu.





Bersambung ke Bab 2. Klik disini
Horas, Ya'ahowu... Salam kenal, saya Onald, Saya mengelolah beberapa blog (Dapat anda lihat di daftar), dan hobby membaca serta menulis, saya menghabiskan waktu di dunia internet, termasuk Youtub…

Post a Comment

Silahkan dikomentari